Jadi Ungu Tidak Selamanya Berguna

 

Coba perhatikan gambar di atas. Ketika pertama kali melihat gambar tersebut, apakah yang pertama kali teman-teman perhatikan?

Pada umumnya, orang cenderung akan refleks melihat sapi yang berwarna ungu. Kenapa? Karena warna ungu pada sapi tidak lazim dan berbeda dari warna sapi pada umumnya yaitu hitam-putih. Itulah sifat manusia. Pada dasarnya manusia cenderung memperhatikan sesuatu yang baru dan berbeda dari biasanya. Sesuatu yang biasa-biasa saja akan mudah luput dari perhatian.

Dalam kehidupan sehari-hari, ada orang-orang yang ingin menjadi ‘Sapi Ungu’. Mereka ingin berbeda. Ingin diperhatikan. Ingin menonjol. Namun pertanyaannya adalah, “Apakah perbedaan mereka itu bermanfaat?”.

 

Seekor sapi ungu memang menarik perhatian. Ia sangat berbeda dari yang lainnya. Tapi kalau seandainya sapi itu tidak bisa menghasilkan susu, dagingnya tidak bisa diolah (karena warnanya ungu), baunya tidak disukai sapi lain (karena warnanya ungu juga), atau dengan kata lain tidak memiliki manfaat apa pun (bagi manusia maupun bagi rekan-rekan sesama sapi), walaupun ia menarik perhatian, tapi apa gunanya ia berbeda?

Marty Grunder, seorang motivator dan pengusaha lanskap dari AS berkata:

Yang berbeda belum tentu lebih baik, tapi yang lebih baik pasti berbeda

Benar, orang-orang sukses ibarat sapi ungu. Mereka berbeda dengan orang yang ‘biasa-biasa saja’. Mereka menjadi unggul karena mereka melakukan hal-hal yang berbeda dari orang lain. Hal-hal yang berbeda. Namun ada yang perlu digarisbawahi dari kutipan Grunder, yaitu “Yang berbeda belum tentu lebih baik”.

Menjadi berbeda hanya menjadikan kita lebih baik kalau perbedaan itu berguna. Memiliki manfaat bagi orang lain. Bila tidak bermanfaat, maka perbedaan itu tidak ada gunanya.

Terkadang kita lebih terfokus untuk menjadi berbeda, tapi lupa memikirkan apakah perbedaan itu memberikan manfaat bagi orang lain.

Jangan hanya sekedar menjadi berbeda. Jadilah berguna.

Posted in In My Opinion | 1 Comment

Saya Kembali

Sembilan bulan dua belas hari berlalu sejak terakhir kali gue menulis postingan di blog ini. Dan sebetulnya secara teknis blog ini sudah vakum lebih lama dari itu, karena terakhir kali gue memposting sesuatu secara rutin adalah di bulan November 2009, tepatnya tanggal 13.

*sekedar kalian tau, tanggal itu adalah tanggal ulang tahun seorang perempuan yang pernah sangat gue kagumi.*

Nah, tentunya para oknum-oknum yang selama ini menikmatii tulisan seorang Arnold berulang kali menanyakan kabar blog ini. Tenang saudara-saudara, kerinduan kalian akan terpuaskan segera.

Yang sedikit membuat gue heran, traffic ke blog gue masih tetap tinggi walaupun blog ini mati suri. Menurut catatan di Histats, dalam dua bulan terakhir blog ini mencatat 1.540 page views dengan 982 visitors, 895 diantara merupakan new visitors.

Entah ya mereka itu nyasar atau bagaimana.

Padahal, postingan gue yang selama ini jadi top post di blog ini udah ga ada di pejwan (baca: page one) google.

Baiklah, sebagai pembuka kembali aktifnya blog ini, mari kita review sejenak apa saja yang terjadi selama arnold.dagdigdug mengalami hiatus

*Apa itu hiatus? Check this out*

  • Arnold menyelesaikan masa studinya di Sekolah Menengah Atas
  • Arnold akhirnya pergi tanding ke China
  • Arnold melanjutkan studinya ke Perguruan Tinggi
  • Arnold main iklan
  • Arnold mengakhiri masa lajangnya
  • …….nantikan sepak terjang Arnold berikutnya

Loh kok semua kejadiannya tentang Arnold?

Pertama, karena akan terlalu panjang kalau seluruh kaleidoskop 2010 ditulis di sini (and that includes tumbangnya timnas Garuda Merah-Putih di final Piala AFF melawan Harimau Malaria…maaf, Harimau Malaya, kayus Gayus HP Tambunan dan wig The Beatles nya, Benny and Mice yang sekarang ga bareng lagi di Kompas Minggu, runtuhnya tambang di Cile, dan lain sebagainya).

Kedua, ini adalah blog pribadi dari seorang Arnold. BUKAN Kompas.com

Sekian dan Terima Kasih

Posted in My Daily Life | 4 Comments

Potong Cinta

Setelah enam bulan tanpa ke salon (dan juga tanpa posting), akhirnya rambut yang sempat menimbukan kontroversi karena sampai membuat pemiliknya dibilang mirip monyet ini terpaksa diakhiri riwayatnya hari ini. Eksekusi terpaksa dilaksanakan karena banyak guru-guru yang sudah memberikan ultimatum. Cuma yang bikin gue heran, kenapa guru yang negur semuanya perempuan ya? Apa jangan-jangan….ah sudahlah

Berhubung saat postingan ini ditulis sang rambut sudah tiada, maka gue ingin menceritakan satu-dua hal sebagai penghormatan terakhir.

Salah satu komentar paling terkenal yang pernah diterima rambut ini adalah:

“Ya ampun Arnold, rambutmu sudah seperti The Beatles saja!”

Siapa lagi kalo bukan Bu Pallo yang berkomentar.

Dan ada juga yang tidak kalah terkenal, sekaligus paling tidak manusiawi:

“Dudh, itu temen kamu mirip monyet.”

Walaupun tidak secara eksplisit berbicara tentang rambut tapi tetap saja…

Ngomong-ngomong, oknum yang bertanggung jawab terhadap pelecehan tersebut sekarang sudah bubar dengan temen gue. Apakah dua hal itu saling berhubungan masih merupakan sebuah misteri besar buat gue…

Well, setelah menerima ancaman dan tekanan konstan dari guru-guru selama hampir dua minggu penuh, akhirnya gue ke salon juga. Berhubung hari ini katanya ada rapat guru, jadi anak-anak dipulangin lebih cepet. Maka gue memutuskan abis pulang sekolah potong rambut di Atrium Senen.

Entah karena si rambut mungkin belum mau dipotong atau gimana, tiba-tba saja dini hari tadi ada kebakaran di seberang Atrium Senen. Tepatnya di sebelah Pasar Senen dan Terminal Senen, di bawah jembatan penyeberangannya. Walhasil dari berangkat sampe pulang sekolah jalur sepanjang Kwitang sampe Gunung Sahari jadi berantakan gara-gara banyak mobil yang jalurnya dialihkan.

Seakan belum cukup, hampir sepanjang hari listrik di sekolah gue padam. Denger-denger gara-gara kebakaran yang di Senen itu. Maka kegiatan belajar-mengajar pun dilakukan sambil bergelap-gelapan plus berkeringat ria. Untung pulangnya cepet. Gue baru tau ternyata rambut kalo nyawanya sudah di ujung tanduk bisa menimbulkan kejadian-kejadian yang seperti ini….

Singkat cerita, akhirnya gue sampai di Atrium Senen. Dan komentar terakhir yang diterima sang rambut pada detik-detik terakhir hidupnya adalah:

Mbak Salon : “Mau diapain Mas rambutnya?”
Gue : “Dipotong abis aja Mbak.”
Mbak Salon : “Lagi patah hati ya?”
Gue : ……………………………

Posted in My Daily Life | Tagged , , , | 5 Comments

“Temen Kamu Mirip…..”

Note: Tulisan ini didedikasikan sebagai ucapan selamat dua mingguan untuk seorang teman yang pernah memberikan buku kumpulan puisi cinta Kahlil Gibran sebagai hadiah ulang tahun ke-16 gue.

Hari Jumat dua minggu yang lalu (tepatnya tanggal 30 Oktober) gue dan Kevin (I wonder why are there so many Kevin in my life, anyway..), pergi ke sebuah sekolah dia daerah Jakarta Utara yang berinisial R dalam rangka menjalankan sebuah misi percintaan.

Bukan, kami bukan mau bercinta di sana, jadi tolong buang jauh-jauh pikiran itu.

Setelah melalui perjalanan yang melibatkan seorang pemandu yang tak lain dan tak bukan adalah seorang penjual siomay yang sudah cukup melegenda di sekolah kami, akhirnya sampailah kami di SMA ‘R’. Misi percintaan pun dimulai..

Baiklah, gue pause sebentar untuk memberikan sedikit gambaran.

Secara singkat latar belakangnya seperti ini. Dahulu kala Kevin sempat menjalin asmara dengan seorang gadis. Karena alasan-alasan yang kurang jelas, hubungan itu berakhir. Dan karena alasan-alasan yang kurang jelas pula, kedua insan manusia tersebut akhir-akhir ini mulai kembali menjalin hubungan. Dan hari inilah mereka akan memutuskan hubungan seperti apa yang akan mereka jalani ke depan nya.

Oke? Lanjut

Kevin sebagai pihak yang punya hajat pun langsung masuk ke dalam dengan gagahnya sementara gue dan sang penjual siomay legendaris, yang untuk menghemat tempat kita sebut saja Hans, menunggu di luar. Setelah Hans juga pulang, maka gue dengan suksesnya nongkrong di depan sekolah orang sendirian sambil diliatin satpam yang menatap gue dengan pandangan entah-curiga-entah-nafsu.

Singkat cerita, akhirnya gue terdampar di Indomaret di seberang SMA ‘R’ (setelah sebelumnya terdampar di tukan gorengan, tukang pempek, pangkalan ojek, dan tempat parkir SMA ‘R’. Entah apa yang membuat mereka begitu lama di dalam. Hanya mereka dan Tuhan yang tau). Belum ada 3 (baca: tiga) menit gue di sana, masuklah Kevin dengan ex-mantan nya plus seorang gadis lain yang, karena gue tau Kevin bukan seorang penganut paham poligami, tentulah temen ex-mantan nya itu.

Karena gue ngerti hari itu gue hanya sedang berperan sebagai sidekick (yeah, inilah efek terlalu banyak mengonsumsi produk Hollywood) maka gue pun mencoba tampil se-low profile mungkin. Yah, se-low profile yang bisa ditampilkan seorang Arnold, which is kemungkinan besar agak jauh dari low profile, karena….

“Dudh, itu temen kamu mirip monyet.”

Hah?

Untunglah kalimat yang sangat tidak manusiawi itu diucapkan di luar Indomaret sehingga tidak gue denger secara langsung, yang bila terjadi akan sangat mungkin mengakibatkan minimal satu galon air mineral melayang ke arah sang pengucap.

Tapi..ah sudahlah. Itu kan saat-saat monumental buat seorang teman. Tidak sepantasnya dirusak dengan melayangnya air mineral galon atau hal-hal semacam itu.

Cuma, gue jadi berpikir. Apa mungkin ada korelasi antara potongan rambut eksperimental gue dengan komentar tidak berperikemanusiaan tersebut?

Posted in My Daily Life | 5 Comments

Paradoks Kerendahan Hati

Tahun ajaran ini kan sekolah gue sedang mengusung tema Kerendahan Hati. Nah, salah satu programnya adalah ngebagi-bagiin gelang silikon warna abu-abu dengan tulisan “Kerendahan Hati”. Itu loh, gelang yang dulu sempet nge-hype. Yang banyak dipake anak-anak basket dan anak-anak yang sok jadi anak basket.

Jadi, sekolah gue ngasih semacam anjuran untuk make gelang itu di tangan kanan. Tujuannya (menurut mereka) biar murid-murid selalu diingatkan untuk selalu bersikap rendah hati. Trus, kalo murid-murid lagi mengalami pergumulan atau masalah, atau menurut temen-temen yang lain udah bersikap nggak (atau mungkin kurang) rendah hati, gelang itu dipindah ke tangan kiri. nanti begitu masalah yang dialami udah selesai atau dia udah bersikap rendah hati lagi, baru gelangnya kembali dipake di tangan kanan. Gue juga kurang ngerti sih policy-nya, secara ga ada keterangan resmi gitu.

Mungkin nggak masalah kalo soal gelangnya dipake supaya murid-murid inget buat bersikap rendah hati. Tapi soal penempatan gelang di tangan kanan atau kiri, gue sedikit mikir. Apa berarti yang make gelang di tangan kanan itu mrid yang rendah hati dan yang make di tangan kiri murid yang nggak rendah hati? Memang sih, ga ada petunjuk resmi dari sekolah soal penempatan ini, dan murid-murid juga ga peduli-peduli amat mau dipake dimana gelangnya. Tangan kanan, tangan kiri, kaki, atau jidat, yang penting nyaman. Itu juga kalo gelangnya muat dipake di jidat…

Kalo emang pemakaian gelang di tangan kanan atau kiri dimaksudkan untuk menunjukkan apakah murid itu rendah hati atau tidak (lupakan soal pemakaian di kaki atau jidat), berarti akan timbul sebuah paradoks. Begini, kalo pemakaian gelang di tangan kanan menunjukkan bahwa sang pemakai rendah hati, itu justru menunjukkan kalo sang pemakai BUKAN orang yang rendah hati, karena dia udah ngerasa rendah hati.

Nggak ngerti ya?

Jadi gini loh. Orang yang bener-bener rendah hati, nggak akan merasa kalo dia udah rendah hati. Karena begitu dia ngerasa udah rendah hati, justru disitulah dia mulai sombong. Sombong karena merasa rendah hati. Jadi kalo gue merasa sekarang ini udah rendah hati, gue jadi hati-hati. karena justru dengan menganggap begitu, sebenernya gue udah mulai menyombongkan diri.

Dan terakhir, gue sendiri nggak make gelang itu lagi karena alasan yang…yah sebaiknya gue ceritain di postingan lain. Mungkin.

Posted in In My Opinion | Tagged , , | 1 Comment

eM-eM-Pi-aI

Hari Senin dua minggu lalu (tanggal 19 maksudnya), di sekolah gue tercinta diadain psokotes buat kelas tiga (biar kata sekarang orang-orang bilangnya kelas dua belas, entah kenapa gue tetep lebih suka nyebutnya kelas tiga).
Ada beberapa teman yang usil nanya, “Nold, lo kan udah tau kuliah mau ngambil apa. Ngapain ikut psikotes lagi?”
“Iseng”

Memang sebenernya gue ikut psikotes ini karena gue penasaran sama yang namanya MMPI (dibaca eM-eM-Pi-aI atawa Minnesota Multiphasic Personality Inventory).

Yah..dalam hidup ini kita kan harus terbuka dan mencoba hal-hal baru (rokok, miras, dan narkoba adalah soal lain. Tapi ya sudahlah, gue tidak sedang ngomongin itu sekarang), meskipun akhirnya mantan gue jadi pernah bilang, “Iseng muluu… gajelas deh!” tapi ya…biarlah

Oh ya, ada satu hal yang bikin gue sedikit bertanya-tanya. Kemarin-kemarin ini kan hasil psikotesnya dibagiin. Tapi waktu gue mau ngambil, gue dikasih tau kalo gue disuruh ngulang psikotes, yang dimana durasinya itu kira-kira 5 (baca:lima) jam. Gak tau deh kenapa itu.

Apa jangan-jangan gue diduga mengidap gangguan psikologis ya? Secara gue duduk sebangku dengan temen gue yang di hasil tes MMPI-nya dibilang mengidap stress dan depresi serta disarankan berkonsultasi dengan psikiater. Err… I wonder if that has something to do with me..

Posted in My Daily Life | Tagged | 3 Comments

Ketidaktahuan

Ketidaktahuan menghasilkan ketidakmengertian. Ketidakmengertian menghasilkan kesalahpahaman. Kesalahpahaman menghasilkan pertikaian. Pertikaian menghasilkan kebencian. Kebencian menghasilkan sakit hati dan dendam.

Posted in In My Opinion | 1 Comment

Wushu Adalah Kesenangan

Waktu gue liat berita Usain Bolt lagi-lagi bikin rekor dunia lari 100 meter dan 200 meter, gue jadi inget kata-kata temen sekamar gue waktu kita lagi ikut Surabaya Open taun lalu.

Kira-kira ucapannya gini:

Ulay: Seng, lo yang bikin semangat wushu apa?
Gue: Hmm apa ya… Kalo kak Ulay?
Ulay: Oh kalo gue sih.. Waktu itu kan gue liat tu pas yang mecahin rekor lari diwawancara. Ng siapa tuh namanya..
Gue: Usain Bolt?
Ulay: Nah iya Bolt Bolt itu
Gue: Terus?
Ulay: Iya terus pokoknya dia bilang, “Bagi saya lari adalah kesenangan”
Gue: Oh, jadi?
Ulay: Iya, terus gue jadi berpikir, kalo buat gue Seng, wushu adalah kesenangan.
Gue: *manggut-manggut*

* * *

Yah..dan mungkin pada akhirnya pemikiran dia sedikit banyak mempengaruhi gue juga. Membuat gue jadi menganggap bahwa yang gue lakukan itu sebagai suatu kesenangan, especially wushu gitu. Sebenarnya sih ga cuma wushu atau lari ya, karena pola pikir kaya gini itu menurut gue bisa diterapin hampir ke segala hal.

Posted in In My Opinion | Tagged , , | 1 Comment

Pantangan RAN

Waktu : Jam istirahat di minggu-minggu ulangan umum
Lokasi : Depan TV di perpustakaan sebuah sekolah di Jakarta Pusat

Entah kenapa sekarang spot di depan TV perpus seolah-olah jadi tempat tongkrongan tetap kami. Apalagi pas minggu-minggu ulangan umum kemaren. Tiap selese ulangan jam pertama, langsung dah pada kongkow di tempat keramat. Niat awalnya sih mau belajar, tapi tetep aja ujung-ujungnya malah nonton Inbox, trus langsung disusul Dahsyat.

*Siapakah kami? Liat fotonya aja deh..*

Berhubung sekarang Cari Jodoh-nya Wali lagi nge-hype, jadilah kita sering nontonin video klipnya. Sekalian ngecengin Happy Salma :mrgreen:

Nah suatu hari, pas video klip RAN lagi diputer, langsung deh dibahas abis. Udah pada berasa kaya kritikus musik profesional aja.

Kata temen gue yang fotonya di tengah:
‘Gue demen ama video klipnya RAN. Efek-efeknya itu lho..’

Temen gue yang kiri malah bilang:
‘Ah orang-orang kok pada demen RAN sih..’

Yaa.. whatever. Itu sih masalah selera.

Nah, trus temen yang di tengah nanya ke gue:
‘Eh Nold, lagunya RAN dulu yang pertama keluar apa judulnya?’

Gue:
‘Pantangan Pertama’

Temen gue:
‘PANTANGAN Pertama?’

Gue:
‘Eh, Pandangan Pertama maksud gue’

Temen gue:
*antara mau ketawa dan bingung. Mungkin bertanya-tanya sejak kapan RAN bikin lagu religi..*

Posted in My Daily Life | Tagged , , , | 5 Comments

Antara fX dan Sensi

Beginilah kalo jadi orang (sok) sibuk. Mesti pinter-pinter ngatur waktu biar jadwalnya ga tabrakan.

Hari Minggu kemaren di Senayan lagi ada simulasi buat kejurnas Jogja akhir Juni nanti. Sekalian seleksi tahap awal lah. Jadilah jam 9 pagi gue udah beredar di Senayan.
Kalo Minggu pagi begini, Seyanan emang rame bener. Semua jenis manusia tumplek blek di sana. Tua-muda, kaya-miskin, cowok-cewek, janda-duda, ganteng-jelek, ada semua.

Nah di sebelah hall wushu kebetulan lagi ada rombongan anak-anak FKUI (gaya banget manggil anak-anak, padahal kan pada lebih tua dari gue ye) lagi ngadain periksa tensi dll gratis. Ternyata cakep-cakep juga yah. Duh sayang sekali gue anak IPS. Ga bisa masuk FK dah :mrgreen:

Begitu gue masuk hall, ternyata udah rame. Eh loh tapi kok kaga ada senior yang laen? Pas gue masuk ke kantor cuma ketemu sama Kak Rizky yang lagi ngorok di kursi. Buseett…

Singkat cerita, setelah ngaret sekian menit (sekian puluh menit tepatnya), akhirnya jalan juga simulasinya. Abis selese simulasi gelombang satu (simulasinya dibikin dua gelombang), pas anak-anak yang lain istirahat gue malah langsung buru-buru ganti baju trus cabut ke fX. Soalnya hari Sabtu kemarennya gue udah janji sama temen LIA gue buat nonton dia konser di sana. Malah gue udah sampe bela-belain bikin peta rute fX handmade eksklusif buat dia.

Eh pas gue nyampe fX, ternyata acaranya belom mulai. Gue tunggu-tunggu 15 menitan, gue di-SMS katanya simulasinya udah mulai lagi. Walhasil gue balik lagi ke hall. Mana itu gue bolak-baliknya jalan kaki..

Begitu nyampe, gue langsung ganti baju (lagi) trus ke lapangan. Bedehh padahal masih pegel itu. Semaput semaput dah gue. Untung maennya jadi cuma dua kali. Padahal awalnya gue mau disuruh maen tiga kali tuh..

Nah begitu selese, gue langsung (untuk kesekian kalinya) ganti baju, trus cabut ke fX (again).
Ternyata..belom mulai juga. Buset dah. Tau gitu tadi pas jeda gue kaga usah ke sini dulu dah.

Abis nonton temen gue itu konser, gue ditelpon sama anak-anak yang lain. Katanya pada mau ngajakin nonton. Sebenernya niat awalnya sih temen gue pengen ngajakin gebetennya nonton (ehem..) tapi entah kenapa tiba-tiba yang ikut malah jadi sekampung.

Ya udah, akhirnya dari fX gue jalan kaki ke Sensi (baca: Senayan City). Gempor gempor dah kaki gue.

Akhirnya gue jadi bolos ngelatih. Sebenernya agak bodoh juga sih. Soalnya gue pergi sama anak-anak wushu laen yang sebenernya murid gue juga. Itu kan sama ibaratnya kalo lo cabut sekolah trus pergi nonton, tapi nontonnya bareng sama wali kelas lo..

Ya whatever lah..

Pas di dalem bioskop, gue kebagian duduk di sebelah temen-yang-tadinya-punya-rencana-yang-sayangnya-kurang-berhasil tadi itu. Tentu saja dia duduk di sebelah sang gebetan hatinya (ehem..lagi).

Yaa.. Tau sendirilah gimana rasanya kalo nonton di sebelah dua orang yang lagi so sweet. Mana sebelah gue yang satu lagi itu orang lain. Kaga bisa ngobrol dah gue.

Hmm, bisa ngobrol sih sebenernya. Sama TYTPRYSKB (liat kepanjangannya di atas). Tapi yaa..topik obrolannya ga jauh-jauh dari ‘si ehem’. Ngerti kan maksud gue..
*isi obrolannya tentu saja private and confidential jadi ga perlu ditulis yak*

Abis selese nonton, ternyata masih ada waktu. Ya udah gue langsung tancap ke Senayan. Kali ini numpang mobil bokap temen gue, jadi ga perlu jalan kaki (lagi).

Dan ternyata emang masih keburu lho. Yaah..gue dateng pas 10 menit terakhir, dan itu pun sebenernya cuma buat nyiapin barisan doang.

Eh,eh, tapi gue akhirnya nerima honor pertama gue lhoo.. Untung tetep dikasih biarpun hari itu gue sebenernya bolos. Ga lucu juga kan kalo baru gajian pertama udah langsung kena potong gaji..

Haahh.. Quite happy ending, huh?

Eh belom selese deng, ternyata abis selese itu gue diculik sama TYTPRYSKB buat ngebahas ‘adegan-adegan’ yang terjadi selama nonton tadi. Wetswets.. Yah seenggaknya gue bisa nebeng dia pulang sampe ke rumah. Walaupun sebagai gantinya sepanjang jalan gue jadi ‘objek peragaan’ dari ‘adegan-adegan’ tadi.

Errrgghh… Lo bikin gue ngiri aja dahh.. Hahaha :mrgreen:

Posted in My Daily Life | Tagged , , , , , | 5 Comments